Jumat, 20 Januari 2012

MATERI PIDATO

Haii... kangen dah lama ngga buka blog .. :( ga posting2.. maklum deh orang sibuk mah..
hahahaha..

oke guys, pada kesempatan kali ini saya mo share tugas saya nih ke sini..
dari pada mubadzir..
buat yang suka pidato .. bisa kok ambil contoh dari materi ini.. hehe


MEMBANGUN CITA CITA DENGAN AKHLAK MULIA
Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan kata “cita-cita” tapi, apakah kalian mengetahui apa itu cita-cita?

Pada dasarnya cita-cita adalah gambaran masa depan yang diinginkan atau suatu keinginan mulia yang hendak dicapai oleh seseorang. Misalnya seseorang ingin menjadi seseorang yang kaya raya sehingga bisa membantu orang-orang yang lemah atau ingin menjadi guru teladan atau ingin menjadi presiden atau juga ingin menjadi wartawan, dan lain-lain. Tidak semua keinginan adalah cita-cita. Cita-cita hanya untuk keinginan mulia. Misalnya, ingin punya motor, mobil, ataupun punya rumah, itu semua adalah bagian dari cita-cita dan bukanlah cita-cita sebenarnya.

Allah swt, menciptakan manusia di bumi dan diberikan aturan-aturan agar dapat kembali kepada-Nya dengan selamat, maka mereka harus memiliki keinginan atau cita-cita yang kuat untuk mengikuti jalan yang lurus dan juga harus memliki ilmu dan menunjukkannya ke jalan tersebut. Tanpa cita-cita yang kuat, manusia tidak akan maju menghadapi hidup. Selanjutnya, tanpa ilmu pengetahuan maka manusia tidak akan tahu jalan untuk mencapai cita-cita tersebut.

Terkadang kita bertanya, kenapa kita harus punya cita-cita?

Cita-cita itu sendiri, dirancang oleh akal diputuskan oleh hati. Orang yang cerdas mampu merancang berbagai keinginan dan hati yang menatanya untuk menjadi cita-cita. Akal merancang cita-cita yang tinggi, hatinya mengarahkan cita-cita yang mulia.
Lihatlah seekor sapi atau kambing yang tidak berakal, maka dia tidak pernah punya cita-cita. Hidupnya hanya untuk makan, minum dan tidur. Maka, jika ada manusia yang tidak memiliki keinginan atau cita-cita, maka sama halnya dengan binatang tersebut.
Maka dari itu manusia harus memiliki cita-cita, karena dengan cita-cita manusia menjadi mulia. Kemuliaan derajat seseorang ditentukan oleh cita-citanya. Dengan cita-cita itu pula seseorang menentukan bentuk usahanya. Jika seseorang ingin jadi seorang guru, maka jalan yang ditempuh akan berbeda dengan orang yang ingin menjadi presiden, dan sebagaimana.
Allah swt. Berfirman:

Artinya :  “sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” (Q.S. Al-lail : 4)


Ayat ini menegaskan kepada kita bahwa karena perbedaan cita-cita maka usaha yang di kerjakan oleh manusia juga berbeda-beda. Setiap orang yang mempunyai cita-cita yang tinggi, tentu akan membutuhkan usaha yang lebih berat dan tidak boleh sering mengeluh serta tidak boleh putus asa. Karena putus asa itu akan menggugurkan cita-cita. Allah swt berfirman:


Artinya : “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.“ (QS. Ali Imran : 159)


Kesimpulan dalam ayat di atas, adalah selain kita berniat (membulatkan tekat) kita juga harus senantiasa bertaqwa kepada Allah. Agar apa yang kita inginkan mendapatkan keberkahan dari-Nya.

Apakah diantara kita sudah punya cita-cita? Jika sudah, Dan apakah kita sudah bertaqwa terhadap Allah swt? Jika belum, mari kita sama-sama membangun sebuah cita-cita yang mulia. Bagaimana caranya? Dan bagaimana strateginya?


Cita-cita bisa dibangun dengan berbagai macam cara, diantaranya adalah dengan cerita-cerita atau dongeng, bacaan, pengalaman, dan pergaulan. Kita bisa membangun cita-cita yang tinggi dengan membaca cerita-cerita atau dongeng tentang kehebatan seorang pedagang. Karena dengan keuletan dan kesungguhannya, dia berhasil menjadi seorang pengusaha yang kaya raya. Dengan membaca sejarah hidupnya kita bisa membangun cita-cita yang sama dengan tokoh dalam cerita yang kita baca. Demikian pula dengan meniru pengalaman-pengalaman pemimpin-pemimpin besar, kita juga bisa membangun cita-cita untuk menirukan apa yang mereka cita-citakan sehingga menjadi pemimpin besar.
Pergaulan juga bisa mempengaruhi cita-cita kita. Jika kita sering bergaul dengan para pengusaha, kemungkinan besar kita akan bercita-cita jadi pengusaha. Jika kita sering berkumpul dengan guru, kemungkinan bersar kita ingin jadi guru dan sebagainya.
Cita-cita harus dibangun sejak dini dari usia muda. Para ulama-ulama besar membangun cita-citanya sejak kecil. Lihat  imam Syafi’i, semenjak kecil sudah menghafal Al’quran dan ribuan hadist. Begitu tinggi cita-citanya, hingga dia harus berusaha sangat keras untuk mencapainya. Hingga suatu ketika Imam Syafi’i berkata:

“cita-citaku setinggi cita-cita raja, jiwaku adalah bebas dan saya menganggap bahwa kehinaan itu adalah kufur.”


Para imam yang lain juga demikian, sejak kecil mereka sudah bercita-cita tinggi setinggi langit, sehingga ketika dewasa mereka bisa mewujudkkan apa yang di cita-citakan tersebut.
 Membangun cita-cita di butuhkan kesabaran dan kedisiplinan. Membangun cita-cita biasanya melalui berbagai macam jalan, antara lain sebagai berikut:

1.    Menentukan cita-cita yang pasti
Buatlah tujuan hidup yang lebih spesifik, karena dengan lebih fokus maka kita akan mudah untuk melaksanakannya. Tanpa cita-cita yang jelas maka seseorang akan hidup tanpa tujuan. Seperti orang ditanya, ingin jadi apa? Lalu menjawab, ya bagaimana nanti lah, liat kondisi. Orang seperti ini sulit untuk sukses mencapai cita-citanya karena dia sendiri tidak tahu apa yang dia cita-citakan.

2.    Menetapkan tujuan yang dapat diukur
Misalnya, tahun ini saya harus sudah kuliah, 10 tahun lagi saya sudah harus jadi pengusaha dan sebagainya. Ukuran waktu atau target ini sangat diperlukan agar kita tidak bersantai-santai dalam menghadapi cita-cita. Selain itu, kita juga bisa mengevaluasi, mampukah kita menggapai cita-cita sesuai dengan waktu yang kita inginkan.

3.    Bertindak
Selain tujuan yang jelas, kita juga harus melakukan tindakan yang nyata untuk mencapai cita-cita tersebut. Cita-cita tanpa diawali dengan usaha, mustahil akan tercapai karena terkadang ada orang yang berusaha keras menggapai cita-cita tapi tidak berhasil. Apalagi jika hanya bercita-cita saja, namun tidak berusaha. Tindakan ini harus dimulai walau sekecil mungkin. Keberhasilan seseorang akan diukur dari sejauh mana dia melangkah menuju cita-cita. Jika seseorang ingin menaiki gedung lantai 5, lalu dia hanya sanggup naik 4, maka di situlah dia gagal mencapai keinginannya.

4.    Bekerja sama
Untuk mempermudah menggapai cita-cita, kita juga perlu membangun suatu silaturrahmi agar bisa saling membantu menggapai cita-cita. Jika hanya kita sendirian maka akan membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding dengan bersama-sama dan saling tolong menolong. Allah swt memerintahkan umat-Nya agar saling tolong menolong dalam urusan kebaikan. Menggapai cita-cita adalah perbuatan yang memiliki tujuan sama.

5.    Perencanaan yang matang
Buatlah perencanaan yang matang dan laksanakan sesuai perencanaan. Untuk membangun gedung yang menjulang, selain dibutuhkan semangat yang tinggi harus jelas juga perencanaan dan tujuan yang kita buat. Demikian pula dengan cita-cita, tentu dicapai dengan usaha-usaha yang telah disusun berdasarkan prioritas. Menggapai cita-cita tanpa perencanaan yang jelas maka tidak akan sampai dengan sempurna. Dengan perencanaan tersebut, seseorang akan mengetahui mana yang harus didahulukan dan yang harus di lakukan belakangan. Ibarat membangun gedung maka dimulai dengan pondasi, kemudian tembok, lalu atap dan seterusnya. Jika tanpa direncanakan dengan baik maka gedung itu tidak akan berdiri dengan kokoh.

Ada pun sebaliknya, sebuah gedung yang tinggi bisa roboh dengan berbagai macam sebab, diantaranya dengan angin topan, bom, gempa atau ditabrak pesawat. Begitu juga dengan cita-cita, bisa saja cita-cita seseorang berubah atau bahkan hilang keinginannya untuk mencapai sesuatu. Ada beberapa hal yang bisa menghancurkan cita-cita kita, antara lain:

1.    Menyia-nyiakan waktu dan menunda-nunda pekerjaan.
Inilah yang sebenarnya sering kita lakukan, dan kita lalaikan. Padahal, pengaruh dari hal ini adalah sangat berdampak sekali dengan masa depan cita-cita kita. Karena, kita lebih sering bermain dari pada membaca buku. Naudzubillah .. marilah kita rubah kebiasaan-kebiasaan ini dengan bersungguh-sungguh guna meraih kesuksesan di masa yang akan datang. Karena sesungguhnya waktu adalah kesempatan, jagalah waktu kita untuk memperluas pengetahuan kita, agar tidak menyesal di kemudian hari.

2.    Sifat malas.
Malas adalah bagian dari sifat setan yang akan menggagalkan cita-cita seseorang. Dengan berbagai macam tipu dayanya, rayuannya, akan selalu mempengaruhi kita. Akan tetapi, agar kita tidak terpengaruh oleh rayuan dan segala macam tipu dayanya kita memohon perlindungan kepada Allah swt agar Allah senantiasa melindungi kita dari sifat malas, dan lemah.

3.    Suka menunda-nunda
Cita-cita akan hancur jika kita suka menunda-nunda pekerjaan. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di hari esok, belum tentu besok ada waktu untuk mengerjakan hal-hal penting. Jadi, buat apa menunda-nunda usaha?. Orang pandai mempunyai prinsip “Jangan menunda besok, apa yang bisa dikerjakan hari ini”

4.    Suka berangan-angan
Panjang angan-angan bukan ciri-ciri orang yang hebat, karena orang seperti ini hanya bisa berandai-andai saja, tetapi tidak mau bekerja. Berharap sesuatu, tetapi tidak dikerjakan adalah panjang angan dan itulah pekerjaan setan.

5.    Negative thinking
Diantara orang-orang yang gagal menggapai cita-citanya adalah orang yang selalu berpikiran negatif. Dia merasa kecil, cita-citanya terlalu tinggi , selalu berburuk sangka kepada orang lain. Berpikir negatif membuat orang menjadi malas dan rendah diri. Padahal  cita-cita harus diusahakan dengan jiwa besar dan berlapang dada.

Dari kesimpulan yang kami sampaikan, dalam pidato ini adalah, ayo!! Dan mari!! Kita bangun cita-cita kita dengan akhlaq mulia, dengan semangat, rasa percaya diri dan juga optimis. Dan jangan lupa kita harus menimba ilmu dengan sedalam-dalamnya. Dan selalu meminta pertolongan Allah dengan do’a, sholat dan beribadah dengan baik. Dan dianjurkan pula agar kita selalu berhusnudzon atau berpikir dan bersikap positif, selalu bergaul dengan orang-orang besar. Dan yang paling utama adalah Istiqomah dan sabar. Karena untuk membangun gedung yang tinggi harus dikerjakan dengan hati-hati sesuai rencana dan harus dikerjakan sedikit demi sedikit.


semoga bermanfaat ^o^


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar